Mengapa banyak orang zalim? Mengapa banyak orang gemar maksiat? Mengapa banyak orang malas beribadah? Mengapa banyak orang masih enggan untuk bersedekah, apalagi berwakaf?

Jawabannya boleh jadi hanya satu: Karena orang tak banyak mengingat kematian. Saat orang tak lagi ingat mati, ia akan banyak terlena dalam kehidupan dunia. Seolah-olah dia lupa Hari Perhitungan di akhirat kelak.

Karena itu banyak mengingat mati amatlah penting bagi setiap Muslim. Banyak mengingat mati akan mampu membuat orang zalim segera menghentikan kezalimannya. Banyak mengingat mati akan sanggup menjadikan orang fasik menghentikan kemaksiatannya. Banyak mengingat mati juga akan mendorong seorang Mukmin untuk terus memperbanyak amal shalih sebagai bekal dirinya saat menghadap Allah SWT di akhirat nanti.

Orang yang banyak mengingat mati akan banyak rasa takutnya kepada Allah SWT. Saat memiliki rasa takut kepada Allah SWT, ia akan banyak terdorong untuk melakukan ibadah. Ia tak akan banyak berangan-angan. Ini sebagaimana dikatakan oleh Hatim al-Ashim:

“Perhiasan ibadah adalah rasa takut (kepada Allah SWT) dan tanda rasa takut kepada Allah SWT adalah sedikit berangan-angan.” (Al-Malibari, Al-Istidad li al-Mawt wa Sual al-Qubr, I/1).

Rasulullah saw. bersabda:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ
“Perbanyaklah oleh kalian mengingat penghancur kenikmatan, yakni maut.” (HR at-Tirmidzi).

تَرَكْتُ فِيْكُمْ نَاطِقاً وَ صَامِتاً، فَالنَّاطِقُ هُوَ الْقُرْآنُ وَ الصَّامِتُ هُوَ الْمَوُتُ
Rasulullah saw. pun bersabda, “Aku telah meninggalkan dua perkara: yang berbicara dan yang diam. Yang berbicara adalah al-Quran. Yang diam adalah kematian.” (Al-Malibari, Al-Istidad, I/3).

Karena itu cukuplah al-Quran dan kematian sebagai nasihat bagi siapa saja yang membutuhkan nasihat. Jika kedua nasihat ini tidak cukup, lalu bagaimana mungkin selain keduanya bisa berguna bagi dirinya? (Al-Malibari, Al-Istidad, I/3).

Apalagi Rasulullah saw. pun telah menegaskan dalam sabdanya yang lain:

كَفَى بِالْمَوْتِ وَاعِظًا وَ كَفَى بِالْيَقِيْنِ غِنًى وَ كَفَى بِالْعِبَادَةِ شُغْلًا
“Cukuplah kematian sebagai nasihat. Cukuplah keyakinan (akan rezeki) sebagai kekayaan. Cukuplah ibadah sebagai kesibukan.” (HR al-Baihaqi).

Alhasil, mari kita banyak mengingat kematian agar kita selalu terdorong untuk memperbanyak amal shalih sebagai bekal saat menghadap Allah SWT di akhirat kelak. []